Aku ingin meluahkan semua kegelisahanku tentang situasi dan kondisi bangsaku, yang membuatku semakin gelisah dan prihatin sehigga terusik rasa nasionalisme yang ada di dalam dada ini. sebagaimana sabda rasul bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman.
hatigelisah.blogspot.com
Saturday, June 20, 2009

Kesulitan Yang Membawa Kesuksesan Besar

Apa reaksi Anda ketika kesulitan menghampiri Anda? Bagaimana jika kesulitan tersebut datang bertubi-tubi seperti ombak yang tak pernah berhenti menderu? Satu hal yang bisa kita simpulkan adalah bahwa ketika kesulitan datang, banyak orang yang akan merasa tak berdaya, lemah dan seperti kehilangan semangat. Itulah yang mungkin sering terjadi pada kebanyakan orang. Tetapi apakah Anda pernah mensyukuri kesulitan-kesulitan yang pernah Anda alami sepanjang hidup ini?
Baru-baru ini muncul sebuah film yang cukup menghebohkan perhatian dunia yaitu “SLUMDOG MILLIONAIRE”. Film ini berhasil memenangkan 8 penghargaan. Film ini dibuat di daerah Mumbai, India. Jika Anda belum pernah menontonnya, saya akan menceritakan ulasannya karena ada pesan yang sangat dalam dan bermakna tentang kehidupan.Film ini mengisahkan tentang seorang anak pemukiman kumuh di Mumbai bernama Jamal. Pada umur 18 tahun, ia mengalami hal paling besar dalam hidupnya, karena ia mengikuti mega kuis “Who Wants To Be A Millionaire”. Ia berhasil memperoleh uang 10 juta Rupee (mata uang India). Ia tinggal selangkah lagi memenangkan uang 20 juta Rupee dan menjadi jutawan dengan menjawab pertanyaan terakhir. Tetapi sayang, acara harus dilanjutkan seminggu kemudian karena waktunya sudah habis.Setelah acara usai, ia ditangkap polisi karena dituduh telah melakukan kecurangan; bagaimana mungkin seorang anak dari perkampungan kumuh, tidak sekolah, tetapi mampu menjawab semua soal dengan benar. Polisi curiga bagaimana mungkin anak ini bisa tahu sebanyak itu kecuali ia telah menipu.Pada saat interogasi, Jamal mengatakan bahwa pengalaman serta kesulitan hidupnyalah yang telah membantunya. Ia menceritakan masa kecilnya di pemukiman kumuh bersama saudara kandungnya, pertemuannya dengan para geng jahat serta pertemuannya dengan Latika, wanita yang dicintainya. Semua kisah tersebut memberikan jawaban terhadap semua pertanyaan yang diajukan kepadanya di kuis tersebut. Pengalaman hidupnya telah membantunya menjawab soal-soal yang kelihatannya tidak mungkin dijawab olehnya.Akhirnya ia pun dibebaskan dan kemudian pada saat harinya tiba, ia mengikuti kuis untuk menjawab soal terakhir. Berita ini sungguh menghebohkan, sehingga semua orang di seluruh India menyaksikan langsung kuis tersebut.Bagaimana akhirnya? Dengan mengagumkan, ia menjawab pertanyaan terakhir dengan benar dan memenangkan uang sebesar 20 juta Rupee, sebuah prestasi yang sungguh membanggakan. Semua orang merayakannya, apa lagi orang-orang di perkampungan kumuh tempat ia tinggal saat kecil dulu. Seorang anak biasa mampu menjadi seorang millionaire berkat kesulitan dan pengalaman hidupnya yang pahit.Sekarang kita balik skenarionya, andaikan ia tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya, apakah mungkin ia menjadi sekarang ini? Inilah yang harus Anda resapi maknanya.Mungkin Anda juga mengalami kesulitan dan menghadapi kenyataan hidup yang pahit. Jangan pernah menyalahkan siapa pun atas sesuatu hal buruk yang mungkin menimpa Anda. Setiap kesulitan sebenarnya membawa Anda menjadi lebih baik. Kesulitan itu sebenarnya datang untuk membuat Anda lebih kuat dan tegar di masa mendatang.Sebagian besar orang merasa tak berdaya jika hal tersebut terjadi. Mereka menyalahkan hidup yang sungguh tidak adil. Mereka menganggap kesulitan sebagai sebuah bencana besar yang harus dihindari.Ingatlah, kita tidak akan pernah diberikan kesulitan yang lebih besar daripada kemampuan diri kita untuk menyelesaikannya. Anda adalah sosok yang lebih besar dari kesulitan itu sendiri. Kesulitan sebenarnya tidak akan membuat Anda mengerut melainkan mengembang dalam arti bertumbuh lebih baik.Sambutlah setiap kesulitan dengan jiwa yang besar, dan jika suatu saat Anda telah sukses dan berhasil, maka Anda pasti akan berterima kasih terhadap setiap kesulitan yang pernah Anda alami dan akan bersyukur bahwa Anda telah diperkuat oleh kesulitan itu.
Friday, June 19, 2009

Ke Cina Kita Belajar Korupsi!



Negara Cina tidak main-main di dalam memberantas korupsi. Hal ini dibuktikan dengan memberlakukan hukuman mati, hukuman paling berat yang ditimpakan Cina terhadap koruptor: Menurut catatan, sejak dilancarkannya gerakan anti-korupsi sampai tahun 2002, sudah 4.300 orang yang menjalani hukuman mati.[1] Jumlah ini saja telah melebihi jumlah hukuman mati di 68 negara, yang menurut Amnesty International, mencapai angka 3.246 orang.[2] Yang menggemparkan dunia adalah bahwa hukuman mati ini juga diterapkan tidak hanya kepada pejabat rendahan atau orang – orang biasa saja, tetapi juga kepada pejabat tinggi negara.
Pada tahun 2000, tepatnya 23 Agustus 2000, salah seorang wakil ketua Kongres Rakyat Nasional (sama dengan DPR di Indonesia) terbukti melakukan korupsi sebesar 41 juta yuan (sekitar Rp 45 miliar) dan dijatuhi hukuman mati.[3] Tidak ada tawar – menawar, permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat Nasional tersebut, Cheng Kejie, ditolak pengadilan. Sementara itu istri Cheng Kejie, Li Ping, dijatuhi hukuman penjara karena dipersalahkan membantu suami meminta uang suap dan mentransfer dana ke bank di luar Beijing. Li bebas dari hukuman mati karena ia bekerja sama dengan penyidik dalam mengungkap detail kejahatan suaminya serta membantu mendapatkan kembali uang hasil korupsi tersebut.
Yang lebih mencengangkan ialah hukuman mati atas Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, Hu Chang- ging, pada Maret 2000. Ia terbukti di pengadilan telah menerima suap bernilai lebih dari 600.000 dollar Amerika Serikat, sekitar Rp 5,1 miliar. Sebagai pejabat tinggi yang memeras uang berjumlah besar, mulai dari beberapa mobil, permata, sampai jam bertatahkan emas. Hu sampai saat ini merupakan pejabat Pemerintah Cina tertinggi yang pernah dieksekusi mati atas tuduhan korupsi.[4]
Berita ini mencengangkan rakyat Cina bahkan dunia. “Cina tidak main – main,” demikian kira – kira komentar banyak orang. Negara yang menyandang gelar “terkorup,” berani mengambil tindakan amat drastis dengan menjatuhi hukuman paling berat bagi tokoh masyarakat dengan jabatan tinggi. Bahkan terdapat lelucon dari Cina, Kaisar X dari Dinasti Y menghukum setiap pelaku korupsi di kerajaannya dengan cara unik. Selain hukuman badan, koruptor membayar denda sebuah batu bata besar kepada pemerintah. Pada akhir masa kekaisaran X berdirilah tembok Cina sepanjang 13.000 mil panjangnya! Di Cina koruptornya banyak, yang dikorupsinya sedikit. Tetapi di indonesia, koruptornya tidak ada tapi yang dikorupsi buanyak banget.
Bagi orang yang hidup di Cina atau sering keluar – masuk Cina, korupsi memang dapat diumpamakan seperti gurita raksasa. Ia membelit dan merasuki seluruh lapisan masyarakat Cina, dari pejabat sampai rakyat biasa. Hal ini sama dengan yang terjadi di Indonesia. Korupsi menimpa baik birokrasi negara maupun mereka yang disebut “kader – kader partai”. Korupsi pada tingkat inilah yang sering dibongkar.
Perlu diketahui bahwa di Cina sebenarnya ada dua birokrasi. Yang pertama adalah birokrasi negara (tidak ada bedanya dengan yang ada di Indonesia dan negara – negara lain). Yang kedua ialah birokrasi partai. Partai Komunis Cina bukan sembarang partai politik. Untuk memastikan bahwa semua kebijakannya dilaksanakan oleh birokrasi negara maka mereka mendirikan birokrasi paralel, yang disebut “Sekretaris Partai.” Gubernur, bupati, camat, lurah, semuanya “didampingi” oleh Sekretaris Partai yang semestinya tidak boleh korupsi.
Karena itulah, korupsi di Cina biasanya sulit dilacak. Pejabat negara berkolusi dengan orang partai yang semestinya mengawasi korupsi. Hancurlah sistem pengawasan. Korupsi di kalangan elit pemimpin Cina memang dahsyat dan benar – benar seperti gurita. Ironis memang, tetapi lihatlah polanya. Mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia. Dimana pejabat negara malah berkolusi dengan orang partai yang semestinya mengawasi korupsi.
Terdapat beberapa kesamaan korupsi di Cina dan di Indonesia. Banyak pengamat Cina berpendapat bahwa korupsi di Cina jangan dibatasi dan dipersempit pada tindakan pencurian milik umum (public property). Korupsi di Cina harus dibaca secara lebih luas, yang menyangkut seluruh perilaku, baik formal maupun informal, baik korupsi publik maupun korupsi swasta. Yang sering dituding adalah kebiasaan “cari koneksi” atau “guanxi.” Dimana pun, kapan pun dalam mengurus segala hal, orang Cina selalu “kao guanxi”, artinya pakai koneksi.
Sebelum masuk ke sebuah kantor (pemerintah atau swasta), orang Cina akan mencari orang yang masih punya hubungan keluarga, orang dari satu klan, sahabat lama, orang sekampung, orang sedaerah, orang satu bahasa, dan orang satu alumni sekolah. Guanxi harus dipakai baik untuk segala macam urusan: urusan dengan kantor pemerintah, urusan bisnis, urusan mencari pekerjaan, urusan karir politik, dsb.[5]
Guanxi memang pada akhirnya sama dengan “zou houmen” (masuk lewat pintu belakang). Akibatnya banyak peraturan dan undang–undang yang dilenturkan atau dibengkokkan, dan korupsi pun merajalela. Persis dengan yang terjadi di Indonesia.
Tentang hal ini banyak sekali penelitian telah dilakukan, dan semua penelitian tiba pada kesimpulan yang sama: guanxi adalah kebudayaan Cina. Dalam buku – buku panduan bagaimana berbisnis dengan orang Cina, pasti ada bab yang menguraikan pentingnya guanxi. Misalnya, buku dari Scott D. Seligman yang berjudul Chinese Business Etiquette.[6] Pada bab tentang “Basic Cultural Differences,” Seligman tidak lupa memasukkan sebuah sub-bab tentang guanxi kepada pembacanya yang orang asing, seakan – akan diajarkan kunci masuk: hanya dengan guanxi (atau korupsi) urusan anda bisa selesai dengan cepat dan dengan biaya lebih rendah.
Cina Menanggulangi
Pemerintah tahu dan sadar tentang adanya korupsi ini. Sejak dimulainya reformasi pada akhir tahun 1970-an, Partai Komunis Cina telah mengeluarkan dekrit dan keputusan, misalnya pada 1982 dikeluarkan “Resolusi Menghancurkan Kejahatan Ekonomi.” Disusul kemudian dengan yang disebut “kampanye”, misalnya pada 1980-1981 “Kampanye Mengurangi Privilese Para Pejabat dan Tendensi Tidak Sehat dalam Partai,” pada 1982 “Kampanye Menghancurkan Kejahatan Ekonomi,” pada 1983 “Kampanye Menghapuskan Ketidakberesan oleh Pejabat dalam Pembagian Perumahan,” pada 1984-1985 “Kampanye Menghentikan Pejabat Masuk Dalam Kegiatan Perdagangan,” pada 1986-1987 “Kampanye Menghukum Pelanggaran Undang – Undang dan Disiplin Partai maupun Negara,” pada 1988-1989 “Kampanye Membangun Pemerintah yang Bersih dan Mencegah Korupsi.”
Kejaksaan Agung mendirikan sebuah task force yang mengadakan penyelidikan kasus – kasus istimewa, yang terdiri dari 50 orang anggota. Mereka diberi kekuasaan menyelidiki kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat tinggi. Mahkamah Agung mendirikan Biro Pusat Penyelidikan Korupsi pada 1995. di seluruh Cina, pada akhir tahun 1996 terdapat 1500 lembaga seperti itu yang tersebar di 26 provinsi.[7]
Para pemimpin PKC rupanya melihat bahwa perlu diambil tindakan yang lebih tegas, tidak cukup dengan “kampanye – kampanye.” Untuk pertama kalinya korupsi masuk dalam UU Hukum Pidana di Cina yang diumumkan pada 1979. Karena dirasa masih belum cukup untuk menjerat para koruptor, pada tahun 1982, oleh Kongres Rakyat Nasional dikeluarkan peraturan khusus anti korupsi. Tetapi akhirnya UU Hukum Pidana diamandemen pada tahun 1997, dan diamandemen lagi pada 1999. Jadi, Cina sekarang mempunyai hukum pidana anti korupsi yang lebih luas, lebih detail, juga meliputi kejahatan ekonomi. Hukuman mati untuk koruptor dibenarkan menurut hukum.[8]
Dalam tubuh partai sendiri didirikan pada 1979 “Komite Disiplin Internal Partai” yang ada dalam bagian Komite Sentral. Komite ini mempunyai kekuasaan untuk menyelidiki pelanggaran disiplin partai, termasuk korupsi. Komite inilah yang menetapkan apakah seorang anggota partai cukup dihukum dengan memecatnya dari partai atau menyeretnya ke pengadilan sipil.
Indonesia Prototype Cina
Setiap orang yang mempelajari sejarah Cina yang 3000 tahun itu akan segera melihat sebuah pola. Dinasti – dinasti selalu dimulai oleh raja/ kaisar yang bijak, lalu mencapai puncaknya pada seorang raja atau kaisar yang hebat sehingga dinasti tersebut mempunyai pengaruh besar baik militer maupun kebudayaan. Tapi setelah itu sebuah dinasti akan merosot, terus merosot, sampai akhirnya digulingkan oleh pemberontak.[9]
Menjelang berakhirnya dinasti, biasanya korupsi merajalela. Dari raja, permaisuri, putra mahkota, hingga menteri – menteri, dan gubernur beserta seluruh jajarannya sampai jauh ke desa – desa, semuanya korupsi. Kaisar biasanya pula tidak terlalu peduli dengan urusan negara. Kekuasaan nyata ada di tangan para kaum kasim, sebuah kelompok orang di dalam istana yang sebenarnya menjadi pengawal permaisuri. Karena posisinya yang sedemikian dekat dengan kekuasaan, satu atau dua kasim ini dapat mengangkat diri sebagai penguasa istana. Kaisar dibiarkan mabuk dengan segala kenikmatan, dan ia mengurus istana sekaligus juga negara tanpa menghiraukan undang–undang atau peraturan.
Negara republik yang muncul setelah tumbangnya dinasti terakhir-Dinasti Qing-ternyata tidak berhasil menjelmakan dirinya sebagai sebuah negara modern yang bersih dari korupsi. Di bawah kepemimpinan Chiang Kai-Sek, republik yang masih muda, Republik Cina-terpuruk dalam kubangan korupsi. Korupsi pada zaman ini menariknya lahir bersamaan dengan masuknya kapitalisme Barat di Cina. Terjadilah kolusi kotor antara birokrasi dan bisnis seperti yang terjadi di belahan bumi yang lain. Chiang Kai-Sek dan keluarganya terlibat dalam seluruh korupsi. Sedemikian korup rezim di bawah pimpinan Partai Nasional Cina (Kuomintang) sehingga partai ini diidentikkan dengan korupsi. Kuomintang sama dengan korupsi.[10]
Korupsi di daratan Cina sebenarnya bukanlah hal yang sama sekali baru yang baru–baru ini saja masuk ke Cina. Korupsi sudah berumur panjang di Cina, ribuan tahun, sama lamanya dengan adanya peradaban Cina. Dinasti–dinasti yang diperintah oleh penguasa dengan “mandat dari langit” hancur karena korupsi, republik yang didirikan atas “mandat dari rakyat” juga tergerus oleh korupsi, pemerintah komunis yang dilegitimasikan oleh korupsi. Pada saat itu ketika kapitalisme (global) sudah mencengkeram Cina, korupsi menjadi suatu yang tak terelakkan dan ditakutkan akan menjadi bom waktu yang meledakkan rezim yang berkuasa sekarang.
Korupsi memang telah berakar dalam bumi Cina selama ribuan tahun, sedemikian dalam sehingga orang pesimis. Gerakan pemberantasan korupsi yang drastis sampai menjatuhkan hukuman mati masih juga dianggap belum mencukupi. Saat ini muncul frustasi dan sinisme dalam masyarakat. “Mana mungkin sih orang Cina menghukum mati kalau tidak karena suatu hal yang amat serius?” begitu kira – kira suara sinis mereka. Hukuman mati terhadap koruptor sering ditafsirkan dalam konteks intrik – intrik politik.
Kendati demikian usaha keras Cina tidak bisa diremehkan juga. Tindakan tegas sekecil apapun untuk memberantas korupsi, masih tetap berharga daripada tidak berbuat apa – apa sama sekali. Cina kini memperoleh peringkat yang baik dalam Transparency International (TI) maupun “Indeks Persepsi Korupsi” (CPI). Menurut CPI dan TI ini terlihat bahwa indeks Cina 3,1 sejajar dengan Mesir dan berada di urutan 63. Sementara Indonesia menduduki posisi 85 dengan indeks 1,7 di peringkat 85 bersama Angola di Afrika, jauh di bawah posisi Cina.
Cobalah ditilik lagi sekilas, sejarah dan pergerakkan korupsi di Cina. Cukup menarik apabila kita dapat melihat kemiripannya dengan apa yang terjadi di Indonesia. Saat Cina masih berpola dinasti, korupsi telah tumbuh dan berkembang hingga akhirnya berdirilah Republik Cina dan korupsi pun masih tetap berkembang. Sebagaimana kita melihat Indonesia saat jaman penjajahan Hindia Belanda, korupsi telah tumbuh berkembang serta berakar hingga saat Indonesia mencetuskan proklamasi sehingga kita mengenal Republik Indonesia pun, korupsi tetap tumbuh subur mengiringi pergerakan zaman negara ini.
Tindakan pemberantasan korupsi walaupun belum efektif 100 persen, penting untuk mempertahankan legitimasi bagi rezim yang berkuasa. Rakyat Cina sekarang bangga bahwa negaranya tidak termasuk negara yang terkorup di dunia. Maka sekalipun ada sinisme dan skepitisisme, ini masih jauh lebih baik daripada nol. Dengarkan seloroh orang Indonesia yang sudah frustasi memikirkan korupsi di negerinya: “Apa perbedaan Indonesia dan Cina di negerinya? Di Cina ada korupsi dan ada koruptor sementara di Indonesia ada korupsi tetapi tidak ada koruptor.” Bahkan adapula komentar orang Indonesia yang seperti ini: “Andaikan kita melemparkan tiga buah batu bata dari atas helikopter, maka dua dari batu tersebut akan mengenai kepala koruptor!”
Di Cina frustasi masyarakat belum mencapai tingkat setinggi ini. Frustasi ekstrem akan menyebabkan rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah dan mereka dengan mudah dieksploitasi oleh lawan–lawan politiknya. Pemerintah Cina kiranya sudah belajar dari pengalaman kuomintang yang runtuh dangan perasaan malu dan sejarah yang panjang.Indonesia ?
Indonesia pernah menjadi bangsa terjajah. Tetapi kesadaran keterjajahan ini tidak menghasilkan sebuah kegeraman historis yang kuat dan merata seperti yang dipunyai oleh Cina. Kerajaan Majapahit yang konon menguasai seluruh nusantara amat jarang menjadi kerangka acuan sejarah Indonesia. Mengapa zaman keemasan di bawah Majapahit tidak pernah mengilhami perjuangan bangsa Indonesia?
Intelektualitas Indonesia rupanya tidak berhasil menimbulkan rasa nasionalisme yang tinggi. Kesadaran untuk membela tanah air dan membangunnya menjadi sebuah bangsa yang besar dan lepas dari korupsi kurang bergema. Sukarno memang pernah mengobarkan semangat nasionalisme lewat tulisan maupun pidato–pidatonya yang menggelora. Soeharto juga pernah berusaha untuk menanamkan semangat yang sama lewat penataran Pancasila. Nasionalisme pada masa Orde Baru malah meluntur dan menjadi bahan tertawaan. Malahan, Pancasila itu menjadi pager yang menaungi dan mengayomi dalam korupsi saat Orde Baru. Kegeraman historis tidak tumbuh. Productivity culture juga tidak ada, semangat persaingan global sebagai bangsa tidak nampak. Pada masa reformasi, sebaliknya malah muncul tanda–tanda adanya semangat untuk menjarah dan menghancurkan Indonesia! Korupsi pun malahan semakin dasyat saja bung!!
Di dalam negeri, hal itu dijalankan oleh partai – partai yang sibuk dengan kepentingan egois dirinya sendiri. Di luar negeri, penjarahan dilakukan oleh perusahaan multinasional maupun organisasi internasional. Competitive advantage of a nation sepertinya hanya menjadi sebuah pemanis dalam suatu seminar ataupun suatu matakuliah. Lantas, kapan kita mau mulai belajar seperti Cina? Dari sebuah bangsa TERKORUP, menjadi salah satu bangsa dunia yang “bersih” dari korupsi dan disegani dunia. Kapan?!!!...... Ya,. Kapan,.kapan,. kita bertemu lagi,. Halah,.Frank said,. I did it my way dah,.